Ki Aom*

Novel Ajengan Anjing ini banyak bercerita tentang bagaimana manusia harus menghargai sesama makhluk. Bahwa sebagai sesama makhluk ciptaan Allah, kita harus bisa hidup selaras dalam kehidupan yang dipenuhi kasih sayang. Sebenarnya, apa yang ditulis dalam novel ini bukanlah hal baru. Jika hanya soal menghargai dan menyayangi sesama makhluk—dalam konteks novel ini binatang berupa anjing—semua agama juga mengajarkannya. Hanya saja, apa yang ingin ditekankan mungkin sejauh mana Islam memberi perhatian pada persoalan hubungan antara manusia dengan flora dan fauna yang ada di bumi.

Di dalam Islam, khususnya dalam fiqih kemazhaban, anjing digolongkan ke dalam kategori najis mugholadoh (berat). Oleh karena itu, karena anjing punya najis yang tergolong berat, maka cara membersihkannya pun terbilang susah. Harus dicuci sebanyak tujuh kali sembari dicampur tanah. Mengapa begitu? Mengapa harus tujuh kali dan tak sekali? Hal itu menunjukkan kehati-hatian para ulama dalam perkara bersuci. Juga bentuk kehati-hatian terhadap penyakit rabies yang bisa menular kepada manusia melalui gigitan anjing yang bertaring. Supaya manusia menjaga jarak, maka dikategorikanlah anjing ke dalam kategori najis berat.

Namun demikian, di balik kenajisannya, ada insting dalam tubuh seekor anjing yang bisa memberikan kebermanfaatan untuk kehidupan manusia. Contohnya, anjing sangat bisa diandalkan untuk menjaga, mendampingi, melindungi, dan sangat patuh pada tuannya.

Kemudian dalam kebudayaan Sunda. Kita mengenal legenda Si Tumang, suami Dayang Sumbi, dan bapak dari lelaki perkasa bernama Sangkuriang. Si Tumang membawa suatu simbol. Ia yang seekor anjing dan punya posisi sebagai birrul walidain, orang tua, identitasnya ditutup-tutupi dan dirahasiakan oleh Dayang Sumbi dengan maksud supaya anaknya tak merasa malu karena punya bapak seekor anjing. Ini bisa jadi pertanda, bahwa seburuk apa pun orang tua (dalam hal ini disimbolkan oleh anjing), yang namanya orang tua tetap orang tua. Lantas mengapa simbolnya harus anjing? Itu karena dalam diri seekor anjing terdapat kelebihan seperti kecerdasannya, dan juga kekurangan yakni kenajisannya. Orang Sunda melihat bahwa figur orang tua sama seperti anjing yang punya kelebihan dan kekurangan.

Lain Sunda lain di kebudayaan Barat. Sebut saja di Eropa atau Amerika. Jika di kebudayaan kita anjing biasanya diperlakukan sebagai partner kerja, atau dalam kata lain dimanfaatkan instingnya untuk membantu kehidupan manusia dalam urusan kerja, di Barat, biasanya anjing malah sama diperlakukan seperti manusia. Hal itu disebabkan karena persoalan produksi. Orang tak punya teman, tak kenal dan dekat dengan tetangga, karena terus disibukkan oleh pekerjaannya. Akhirnya manusia jadi individualis.

Tapi bagaimanapun, yang namanya hidup tetap perlu teman. Dalam hal ini, untuk mengisi kekosongan itu, orang-orang Barat lebih memilih memelihara anjing untuk dijadikan teman. Itu karena mereka berpikir kalau anjing tak akan pernah berkhianat dan akan selalu setia pada si pemelihara atau tuannya. Beda dengan manusia yang akan selalu punya kemungkinan untuk khianat sebaik apa pun mereka diperlakukan. Oleh karena itu, di kultur Barat, anjing jadi bisa mengakses ruang-ruang privat. Sama tidur di kamar, sama tinggal di rumah, dan bahkan bisa makan dari piring yang sama.

Secara hablum minal ‘alam, secara kemakhlukkan, kita memang harus bisa saling menyayangi. Bagaimana bersikap dan berlaku baik kepada sesama makhluk ciptaan Allah dan apalagi kepada sesama manusia. Namun justru di sini kita perlu berhati-hati. Dalam bersikap dan berlaku terutama kepada sesama makhluk, jangan sampai kita terjebak dalam kata equality (kesetaraan).

Kita mengetahui Islam memiliki konsep rahmatan lil’alamin, rahmat bagi seluruh alam, seluruh makhluk, termasuk tumbuhan dan seluruh ciptaannya yang lain. Tapi ada satu kerangka yang mengatur bagaimana seharusnya kita bersikap dan berperilaku. Sikap dan perilaku kita harus disesuaikan dengan kodrat makhluk itu sendiri. Misal dalam hal memperlakukan anjing. Memperlakukan anjing pasti tidak boleh sama dengan memperlakukan manusia, karena ada karakter yang berbeda, ada makhluk yang berbeda, ada hakikat yang berbeda. Juga perlakuan kita terhadap alam. Jadi sikap dan perilaku kita seharusnya bersandar pada equity (keadilan), yang berarti bisa menempatkan sesuatu sesuai tempatnya.

Islam menjelaskan konsep rahmatan lil’alamin supaya umatnya bisa berperilaku adil terhadap manusia, binatang, tumbuhan, dan juga makhluk-makhluk lain yang tidak terlihat (ghaib) di alam ini sesuai proporsinya masing-masing. Maka dengan konsep ini, umat Islam harus bisa memberikan kedamaian bagi seluruh alam. Damai dengan manusia, damai dengan binatang, damai dengan tumbuhan, damai dengan makhluk-makhluk ghaib, dan damai dengan alam semesta. Jika tidak, maka ada sebuah konsekuensi. Kita tidak ramah kepada alam, maka hal itu akan berbalik pada diri kita. Ada hukum kausalitas, sebab-akibat dari perilaku kita yang tidak menghargai alam atau tidak menghargai makhluk-makhluk lainnya. Semua akibat akan berbalik pada diri kita sendiri.

*Ketua LESBUMI Kab. Garut/Tokoh Muda Masyarakat Adat Kampung Dukuh